PENGARUH FILM JENIS “SINETRON” DI TELEVISI
Dewasa ini, banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya di rumah untuk menonton televisi. Di antara tontonannya adalah acara sinetron yang notabene jauh tidak cocok untuk anak-anak, namun mereka seolah-olah tersihir dengan apa yang ditampilkan oleh sinetron itu dan selalu ingin menontonnya. Banyak juga di antaranya yang menonton tanpa didampingi orang tuanya, sehingga anak-anak memilih tontonan televisi yang tidak sesuai untuk seumurannya. Mungkin contoh yang dapat saya ambil di sini adalah adik kecil saya dan juga anak-anak tetangga di rumah yang sering bermain bersama-sama di halaman rumah, juga ketika saya di asrama, banyak anak-anak yang sering bermain di halaman besar asrama di sore hari. Yang saya lihat dari cara mereka bergaul, bersosialisasi dengan teman sebayanya, cara bicaranya, dan lainnya, hampir mirip dengan cara komunikasi verbal maupun nonverbal yang dilakoni para artis-artis di sinetron tersebut. Ada sebagian anak yang cenderung diam serta tidak banyak mengganggu anak lainnya, berpenampilan biasa, gaya bicara yang datar, dan ada juga sebagian anak yang cenderung suka menjahili temannya, berbicara dengan menggunakan istilah bahasa gaul seperti yang ada di film-film khususnya sinetron. Ada yang mudah murung, susah bersosialisasi, susah merespon atau (kurang bisa memberi tanggapan) atas sesuatu dari temannya. Entah itu ketika mereka bermain bola, berebut mainan puzzle, dan jenis permainan lainnya. Ada perbedaan yang dapat di amati, antara anak-anak yang cenderung lebih agresif dan anak-anak yang lebih banyak diam. Pengaruh sinetron dapat juga berperan bagi perkembangan sosialnya, karena anak-anak meniru apa yang ditangkap inderanya dari tayangan sinetron tersebut.
Banyak tayangan sinetron di televisi yang menampilkan adegan kekerasan, vulgar, atau bahkan cenderung destruktif. Realitanya masih banyak yang menampilkan tindakan kekerasan yang lazimnya dilakukan orang dewasa seperti mencekik, memukul, menembak, membanting atau bahkan keinginan untuk menghancurkan lawan. Hal ini layaknya film untuk orang dewasa. Apabila program seperti ini terus menerus dikonsumsi oleh anak di tiap harinya, bukan tidak mungkin hal ini bakal meningkatkan kecenderungan seorang anak untuk berperilaku kasar di masa depannya.
Tinjauan teori mengenai hal ini adalah Observational Learning effect Theory, Yang diusung oleh Bandura dan Waters (1963). Mereka berargumen bahwa penonton akan mempelajari kekerasan dari televisi. “….people learn to be aggressive. People may model their aggressive behaviour on screened violence. Therefore television increases the likelihood of aggression and violence by showing situation that the viewer can imitate. The audience are more likely to imitate violent screen behaviour if they perceives that the behaviour is rewarded by others…”. Jadi, menurut teori ini, seorang penonton televisi akan meniru apa yang diperagakan –termasuk juga kekerasan dan agresivitas sebagaimana ditampilkan oleh aktor atau tokoh yang mereka kagumi di televisi.
Pada usia balita perkembangan otak tumbuh pesat, dan ini dipengaruhi oleh stimulasi yang diterima si anak dari lingkungan sekitarnya. Agar tak menimbulkan masalah pada anak di kemudian hari. Menurut teori Gestalt, yang mendasarkan pada teori belajar pada psikologi Gestalt beranggapan bahwa “setiap fenomena terdiri dari suatu kesatuan esensial yang melebihi jumlah unsur-unsurnya”. Bahwa keseluruhan itu lebih daripada bagian-bagiannya. Didalam peristiwa belajar, keseluruhan situasi belajar itu amat penting karena belajar merupakan interaksi antara subjek belajar dengan lingkungannya. Selanjutnya para ahli psikologi Gestalt tersebut menyimpulkan, seseorang dikatakan belajar bila ia memperoleh pemahaman (insight) dalam situasi problematis. Pemahaman itu ditandai dengan adanya (a) suatu perubahan yang tiba-tiba dari keadaan yang tak berdaya menjadi keadaan yang mampu menguasai atau memecahkan masalah (problem) (b) adanya retensi (c) adanya peristiwa transfer. Pemahaman yang diperoleh dari situasi, dibawa dan dimanfaatkan atau ditransfer ke dalam situasi lain yang mempunyai pola atau struktur yang sama atau hampir sama secara keseluruhannya (bukan detailnya). Jika sang anak belajar dari sinetron, maka pengaruhnya kurang baik.
Pola berfikir anak-anak belum matang. Mereka masih belum dapat membedakan betul dan mengintepretasikan apa-apa yang mereka lihat di layar televisi layaknya kehidupan nyata. Contohnya: anak-anak terutama balita masih banyak yang menafsirkan bahwa karakter/tokoh yang mereka lihat di televisi adalah tokoh benar-benar hidup di dalam televisi mereka. Hal ini bisa memperburuk persepsi anak dan membingungkan mereka dalam mempelajari apa-apa yang nyata dan tidak nyata yang ada di dunia ini. Suatu ketika hal ini bisa menumbuhkan gambaran rasa takut, trauma, dan bahkan menjadikan hal yang dianggap berlawanan dari sudut pandang seorang anak. Untuk itulah orang tua benar-benar harus dapat memberikan dampingan dan penjelasan agar anak dan balita mengerti betul sesuai daya tangkap mereka.
Menonton televisi bisa menjadikan seorang anak kecanduan atau adiktif. Semakin seorang anak sering menonton televisi, maka akan semakin besar pula keinginannya untuk melihat lagi. Pernahkah kita memperhatikan? seorang bayi pun suatu ketika benar-benar dibuat tidak mau memalingkan pandangan matanya dari layar kaca, terutama jika acara yang berlangsung sangat membuat dirinya penasaran dan ingin tahu. Bahkan ketika mereka mulai kecanduan, jika kita mematikan TV saat mereka masih asyik menonton bisa membuat mereka marah, menangis, atau bahkan ngambek juga. Anak yang menonton TV secara berlebih akan cenderung pasif dan secara alamiah akan kehilangan daya kreatifitas mereka. Waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk bermain, habis untuk menonton televisi.
Dari ini, diharapkan agar anak-anak bisa diminimalisir waktunya untuk menonton televisi. Namun jika perlu menonton, maka dengan dampingan dan diseleksi acara televisi yang sesuai dengan anak-anak agar pengaruh negatif akibat kebanyakan meniru adegan di sinetron dapat berkurang atau bahkan tidak ada lagi. Dalam hal ini, para orang tua atau pengasuh anak-anak akan sangat berperan penting dalam mengontrol mereka. Jadi, diharapkan mereka memiliki waktu luang untuk mendampingi waktu-waktu menontonnya. Walaupun acara untuk anak disengaja untuk memberikan pesan moral yang baik kepada kita, namun lebih baiknya memberikan pengertian yang cukup pada anak. Juga, secara kontinyu memberikan dampingan atau ikut melihat bersama anak/balita, karena memang ditemukan banyak sekali acara TV yang tak sesuai dengan porsi anak-anak, terutama tentang kekerasan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar